Waspada Hantavirus, Kemenkes Pastikan Belum Ada Penularan Antar Manusia di Indonesia
JAKARTA — Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan wabah di kapal pesiar internasional MV Hondius yang menewaskan tiga penumpang dan menyebabkan puluhan lainnya harus menjalani isolasi. Di tengah kekhawatiran masyarakat akan potensi pandemi baru, pemerintah Indonesia memastikan situasi masih terkendali dan belum ditemukan penularan antarmanusia di dalam negeri.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Hantavirus berbeda dengan Covid-19. Virus ini tidak mudah menular dari manusia ke manusia, terutama varian yang selama ini ditemukan di Indonesia.
“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” ujar Budi dalam keterangan pers di Jakarta.
Kasus yang saat ini dipantau pemerintah berasal dari seorang warga negara asing (WNA) yang diketahui memiliki riwayat kontak erat dengan kasus Hantavirus di luar negeri. Informasi tersebut diterima pemerintah Indonesia dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026.
Sehari kemudian, pasien langsung diidentifikasi dan dibawa ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta Utara, untuk menjalani isolasi dan observasi selama masa inkubasi dua minggu.
Pemeriksaan terhadap seluruh kontak erat hingga kini menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan ketat sebagai langkah antisipasi.
Secara medis, Hantavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh Orthohantavirus dan umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan curut. Penularan dapat terjadi akibat paparan urine, air liur, feses, hingga gigitan hewan yang terinfeksi.
Virus ini dikenal memiliki dua manifestasi klinis utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.
Gejala yang muncul biasanya berupa demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga gangguan pernapasan. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami gagal ginjal maupun gangguan paru serius.
Hingga saat ini, belum ada obat khusus maupun antivirus spesifik untuk menyembuhkan Hantavirus. Penanganan pasien dilakukan berdasarkan gejala yang muncul melalui terapi suportif dan observasi intensif.
Kemunculan virus ini kembali menjadi sorotan dunia setelah wabah terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus yang ditemukan pada kapal tersebut diduga merupakan varian Andes, jenis Hantavirus asal Amerika Selatan yang memiliki kemampuan menular antarmanusia melalui kontak erat.
Varian Andes berbeda dengan varian Asia yang selama ini ditemukan di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan, varian yang beredar di Indonesia memiliki tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen dan tidak terbukti menyebar antarmanusia.
Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono, menjelaskan bahwa Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia.
“Virus hanta sudah lama ada di Indonesia sejak sekitar tahun 2000-an. Namun, varian Andes yang bisa menular dari manusia ke manusia belum pernah ditemukan di sini,” jelasnya.
Ia menambahkan, penularan di Indonesia lebih banyak terjadi akibat lingkungan yang tidak higienis dan populasi tikus yang tinggi, terutama saat banjir maupun di kawasan padat penduduk.
Karena itu, pemerintah meningkatkan pengawasan di berbagai pintu masuk negara. Sebanyak 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan kini disiagakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap penumpang internasional, khususnya dari negara yang melaporkan kasus Hantavirus.
Pengawasan juga diperketat di Bandara Soekarno-Hatta melalui pemeriksaan deklarasi kesehatan dan pemantauan kondisi penumpang dari luar negeri.
Selain itu, Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan alat skrining, mulai dari rapid test hingga reagen PCR, guna mendeteksi potensi kasus lebih dini.
Meski begitu, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak panik. Masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, serta menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat maupun kotorannya.
Pemerintah menilai kewaspadaan tetap penting, namun situasi saat ini belum mengarah pada ancaman pandemi seperti Covid-19 karena tingkat penularannya jauh lebih rendah.
