BeritaTerbaru

Isu ‘Patahan Baru’ di Sulawesi Viral, BMKG Tegaskan Bukan Sesar Baru

Sulawesi — Isu mengenai munculnya “patahan raksasa baru” di bawah Pulau Sulawesi dalam beberapa waktu terakhir ramai beredar dan memicu kekhawatiran masyarakat. Narasi tersebut bahkan dikaitkan dengan potensi tsunami besar. Namun, penjelasan resmi menunjukkan bahwa informasi tersebut perlu diluruskan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa tidak ada penemuan sesar baru. Informasi yang beredar merupakan hasil salah tafsir terhadap penelitian ilmiah yang mengkaji Sesar Palu-Koro—salah satu sesar aktif yang telah lama diketahui di wilayah Sulawesi.

BMKG menjelaskan, penelitian terbaru justru membahas kelanjutan struktur Sesar Palu-Koro yang memanjang hingga ke laut, bukan kemunculan patahan baru. Studi tersebut mengungkap variasi ketebalan kerak bumi di wilayah Sulawesi, mulai dari sekitar 8 kilometer di Laut Sulawesi hingga lebih dari 30 kilometer di wilayah lain seperti Selat Makassar.

Secara geologis, Sesar Palu-Koro merupakan batas struktural utama yang memisahkan dua blok kerak bumi dengan karakteristik berbeda. Interaksi tersebut menjadikan wilayah Sulawesi sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik yang kompleks.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi aktivitas baru yang mengarah pada potensi gempa besar atau tsunami dalam waktu dekat. Masyarakat diimbau untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Isu yang beredar juga kerap mengaitkan penelitian ini dengan peristiwa gempa dan tsunami Palu pada 2018. Namun, secara ilmiah, tsunami tersebut tidak hanya disebabkan oleh pergerakan sesar, melainkan juga dipengaruhi oleh longsoran material dalam jumlah besar di Teluk Palu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa interpretasi terhadap data ilmiah tidak dapat disederhanakan menjadi satu penyebab tunggal. Penelitian yang ada justru bertujuan untuk memahami kompleksitas struktur bawah bumi guna mendukung mitigasi bencana ke depan.

Sesar Palu-Koro sendiri membentang dari daratan Sulawesi Tengah hingga ke perairan sekitar, menjadikannya salah satu sesar aktif yang perlu terus dipantau. Namun, keberadaannya bukanlah hal baru, melainkan bagian dari sistem tektonik yang telah lama dipelajari.

Di tengah maraknya informasi yang beredar, BMKG mengingatkan pentingnya literasi kebencanaan. Informasi yang tidak akurat berpotensi menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di masyarakat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di era digital, penyebaran informasi yang tidak utuh dapat dengan cepat membentuk persepsi yang keliru. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyaring informasi, serta mengacu pada sumber resmi dalam memahami isu kebencanaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *